Update lagi...
postingan kali ini buatan ade mimin :D ( kok jadi kayak penyiar radio)
dari pada tambah ngawur langsung aja, baca dibaca
Happy Reading...
Main Cast :
·
Do
Kyung Soo
·
Kim
Jong In
Other Cast :
·
Temukan
sendiri
Genre :
·
Gore
·
Etc.
Rate : Mature for gore
Disclaimer : semua tokoh terkecuali OC adalah milik
Tuhan YME, orang tua mereka, juga milik Agensi mereka terkecuali cerita dalam
bentuk fanfiction ini adalah hasil pemikiran sendiri. Hanya bertujuan untuk
hiburan semata, apabila terdapat kesamaan nama tokoh OC, alur cerita, ataupun
dalam bentuk apapun itu adalah seratus persen ketidaksengajaan. Tidak bertujuan
untuk menyinggung atau bentuk apapun yang berbentuk negatif.
Sumarry : Menyenangkan, ketika melihat darah
mereka mengalir dari goresan pisau ukirku. Ketika mereka menangis, aku tahu...
AKU DAN DIA ADALAH DEWA
KEMATIAN YANG MENAKUTKAN.
Warning :
Terdapat KAISOO atau
KAID.O couple. First Gore FF! YAOI! Don’t like? Don’t Read!!! Kemungkinan besar
terdapat typo di mana-mana. Read and Review Guys!
“Kyung, siapa dia?”
tanya Jong In dengan wajah datar membuat Kyung Soo tertunduk takut, dengan
perlahan Kyung Soo memundurkan badannya ke sudut kamarnya. Kyung Soo pun
memilih duduk sambil menyembunyikan wajahnya di antara kakinya yang ia lipat.
“jawab aku.”
“dia seniorku, percayalah.” namun Jong
In tidak mendengarkannya dengan baik dan Jong In menampakkan wajah setannya.
Wajah yang sangat Kyung Soo benci.
“wah, kau sudah berani berbohong
sayang. Apa kau tidak jera? Haha... sebentar aku akan ambilkan sesuatu yang kau
suka.” dengan senyum yang merekah Jong In pergi dari sana setelah mengunci Kyung
Soo di dalam sana. Di dalam kamar yang pengap, dan tanpa cahaya matahari yang
menerangi ruangan tersebut. Mendengar pernyataan Jong In tersebut Kyung Soo
tahu dirinya akan mendapatkan sesuatu yang mengerikan –namun istimewa bagi Jong
In. Kyung Soo benar-benar benci itu, bahkan biarpun Kyung Soo menangis dan
berteriak bagaimana pun Jong In tetap tidak akan mendengarkannya.
Dan, Kyung Soo dapat mendengar pintu
kamarnya tersebut terbuka secara perlahan, menampakkan Jong In yang tengah
membawa sebuah kotak besar dengan jas putih yang ada di bahunya.
“ini dia, kau lihat ini? Pagi tadi
aku membelinya, hanya untukmu.” seru Jong In dengan wajah gembira sambil
memperlihatkan sesuatu yang ada di tangannya ke arah Kyung Soo, Kyung Soo pun
seketika menangis dan itu membuat Jong In tersenyum... inilah yang ia suka dari
Kyung Soo. Suara tangisnya adalah anugerah baginya.
“ini borgol, ini pisau, ini obat
untuk melumpuhkan saraf yang ada di badanmu nanti, ini alat tatoo hadiah dari
temanku Jong In, dan kau tahu... aku sudah mengisinya dengan warna merah dan
yang satunya bewarna hitam.” jelas Jong In sambil memperlihatkan barang-barang
yang ada di depan Kyung Soo.
“Jong, jangan... ku mohon... aku
benci semua ini, aku berjanji akan membuat lelaki tersebut menghilang dari
hadapan kita.” tangisan dan teriak Kyung Soo mengisi ruangan tersebut, Jong In
terdiam... tawaran Kyung Soo benar-benar menguntungkan baginya. Jong In tidak
memperdulikan Kyung Soo yang tengah melemparinya dengan semua benda yang ada di
sana.
“baiklah, tapi... kau lihat! Pagi
tadi Sehun mentatoonya untukku, dan aku diajarkan olehnya. Jadi aku akan
mentatoomu persis seperti tatoo yang ada di tanganku ini, kau harus bangga
karena ada namamu di tanganku.” Kyung Soo segera berlari ke arah pintu, namun
nihil. Pintu tersebut telah di kunci oleh Jong In dan kunci tersebut berada di
kantong celananya.
Dengan sekali tarikan, Kyung Soo
terjatuh ke atas lantai dengan punggung menghantam dinding dengan keras. Jong
In pun mendekatinya kemudian mengelus rambutnya, memberikan kecupan manis di
kening Kyung Soo kemudian menggendong perempuan tersebut ke arah kasur yang ada
di sana. Setelah meletakkan Kyung Soo di kasur, dengan cepat Jong In mengikat
kaki maupun tangan Kyung Soo yang sedari tadi mencakar dan menendangnya keras.
“jangan... Jong, aku mencintaimu...
jangan.” Kyung Soo benar-benar sangat ketakutan ketika melihat jarum yang ada
di alat tatoo tersebut keluar masuk dengan cepat, ketika mendengar tuturan Kyung
Soo tersebut Jong In kemudian memeluknya, mengatakan aku juga mencintaimu tepat
di telinga Kyung Soo.
“ini tidak akan sakit, kau harus
menghargai usahaku untuk mentatoomu, lihat namamu ada di tanganku!” seru Jong
In kemudian mengarahkan jarum tatoo tersebut ke arah tangan Kyung Soo, Jong In
dapat mendengar teriakan histeris bercampur tangis ketika Jong In menekan jarum
tatoo tersebut sangat dalam. Dan ketika mendengar tangisan tersebut, Jong In
semakin menekannya sambil menggerakkannya untuk membuat namanya di tangan Kyung
Soo.
Kyung Soo yang menangis sedari tadi
hanya Jong In anggap tawa ringan yang keluar dari mulut Kyung Soo, sakit yang
luar biasa Kyung Soo rasakan ketika jarum tersebut memasuki kulit dan dagingnya
semakin dalam dan dalam. Kyung Soo dapat merasakan perih dan sakit yang luar
biasa ketika pewarna tersebut menyapa kulit dalamnya dan juga dagingnya, dan
dapat terlihat darah mengalir dari sana.
“kurang... harus mengulanginya lagi.”
tenggorokan Kyung Soo sudah kering karena berteriak dan menangis sedari tadi, dan
perkataan Jong In tadi berhasil membuat Kyung Soo membulatkan matanya yang
sembab.
“tenang saja... ini yang terakhir,
asalkan kau lakukan apa yang kau katakan tadi.”
“dengan cara apa?”
“semenyenangkan mungkin.”
“aku akan melakukannya... ku mohon,
lepaskan.” Dengan perlahan Jong In melepaskan tangan Kyung Soo yang tengah
mengeluarkan darah segar nan merah sedari tadi melalui goresan-goresan alat
tatoo tersebut.
“tunggu di sini, aku akan ambilkan
handuk dan air hangat untukmu. Dan kotak P3K.” Lalu Jong In pergi dari sana,
meninggalkan Kyung Soo yang berjuang mempertahankan kesadarannya yang semakin
menipis karena darahnya yang mengalir keluar dengan indahnya.
“tenanglah sayang... aku akan
menghentikan pendarahannya.” Kyung Soo dapat merasakan Jong In membersihkan
tangannya yang berlumuran darah, merasakan cairan revanol yang disusul dengan
alkohol berkadar 75% tersebut di atas lukanya. Dan setelah itu, ia dapat
merasakan Jong In tengah melilitkan perban di tangannya dengan lembut.
“selesai, tidurlah sekarang.” Dan
setelah itu, ia tidak dapat melihat apa-apa. Penglihatannya hanya terisi oleh
pekatnya gelap. Dan sebelum tak sadarkan diri, ia tahu setelah ia bangun nanti ia
punya tugas yang berat.
Dan menyenangkan.
~o0o~
Dentuman musik yang keras memasuki
telinga Kyung Soo, ia benar-benar tidak suka dengan tempat ini. Club Malam Adam
untuk orang-orang gay menengah ke atas ini benar-benar membuat Kyung Soo
pusing, bau asap rokok dan bau alkohol yang menusuk indra penciumannya
membuatnya geram. Seandainya bukan karena Jong In, ia tidak akan mau memasuki
tempat terkutuk ini.
Sekarang, ia mengenakan kemeja
longgar beserta celana jeans hitam yang membuat beberapa lelaki hidung belang
menatapnya dan juga menggodanya. Namun, Kyung Soo tidak peduli. Ia pedulikan
sekarang adalah, LAKSANAKAN APA YANG DIKATAKAN KEKASIHNYA.
Ia sangat membenci tontonan yang ada
di depannya, lelaki mungil yang menjijikkan tengah menari-nari menggoda lelaki
yang ada di sana dengan mengunakan satu tiang. Kalau dibuat daftar isi yang Kyung
Soo benci di tempat terkutuk ini, inilah hasilnya.
ü Lelaki
hidung belang.
ü Musik
yang tidak karuan.
ü Asap
rokok.
ü Bau
alkohol yang menyengat.
ü Lelaki
murahan.
Namun
setelah ini, ia akan bersumpah untuk tidak akan mengunjungi tempat ini –kecuali
ada urusan seperti ini. Ia dapat melihat Jong In tengah mengamatinya sambil
meminum vodka kesukaannya.
“Kyung
Soo~ apa yang kau lakukan di sini? Lelaki mungil sepertimu seharusnya tidak
boleh ada di sini.” Kata seorang lelaki lalu memeluk Kyung Soo dari belakang,
dan ketika lelaki itu memeluknya dan meletakkan dagunya di bahu Kyung Soo yang
terekspos entah sejak kapan membuat Kyung Soo dapat menghirup bau alkohol yang
pekat.
“ini
karenamu hyung” karena perintah Jong
In, ia harus bersikap seperti lelaki murahan yang ada di sana. Membuang
jauh-jauh perasaaan bencinya. Menggoda lelaki yang tengah terkekeh ramah tepat
di telinganya.
“karenaku?
Memangnya seorang Do Kyung Soo ke sini hanya karena seorang Kim Joon Myeon? Aku
tidak menyangka, jadi... sayang~ kau mau bermain?” tanya Joon Myeon sambil
mengeratkan pelukannya di perut Kyung Soo dan menghembuskan nafasnya yang panas
ke leher Kyung Soo membuat Kyung Soo geram, kemudian Kyung Soo menghela nafas
dan langsung memasang wajahnya yang indah.
“aku
malah ke sini untuk mengajakmu bermain hyung”
rengek Kyung Soo kemudian membalikkan badannya dan langsung memeluk Joon Myeon
erat, karena pelukan itu Joon Myeon tertawa keras lalu mengecup pelan kening Kyung
Soo.
“apakah
si banci itu tidak pernah bermain denganmu? Sampai-sampai seorang malaikat
manis mendatangi seorang iblis sepertiku? Kau bosan dengannya hm?” tanya Joon
Myeon membuat Kyung Soo benar-benar marah, namun untuk tujuannya dia harus
memendam kemarahannya tersebut. Dari sudut matanya, Kyung Soo dapat melihat Jong
In tertawa dan terus meminum vodkanya.
“tidak,
dia menjagaku dengan baik. Dan ia bilang dia hanya ingin bermain denganku
ketika kami sudah menikah.” Jawab Kyung Soo sambil menatap mata Joon Myeon
dengan tatapan menggoda. Setelah mendengar penuturan lelaki mungil yang tengah
ia peluk ini, ia hanya tersenyum kemudian mengecup kembali kening Kyung Soo
lama.
“terlalu
banci, seharusnya ia sadar. Dia harus kehilangan malaikat sepertimu, baiklah...
aku akan memesan kamar dulu. Dan aku pastikan kau akan melupakan si banci itu.”
Ketika Joon Myeon pergi meninggalkan Kyung Soo di sana untuk memesan kamar, Kyung
Soo tersenyum licik.
“benar...
permainan kita akan sangat panas.” Guman Kyung Soo sambil mengarahkan
penglihatannya ke arah Jong In yang memberikannya isyarat dengan sebuah jempol
menandakan aktingnya benar-benar hebat.
“sayang...
ikuti aku.” Panggil Joon Myeon dari kejauhan, dengan perlahan Kyung Soo
berjalan ke arahnya dan setelah sampai di samping lelaki berwajah angelic tersebut ia dapat merasakan
sebuah telapak tangan menyentuhnya tepat di mana seharusnya Jong Inlah yang
lebih dulu menyentuhnya. Dengan perlahan Kyung Soo mendorong tangan Joon Myeon
yang berada di pantatnya, dengan tawa yang mengelegar Joon Myeon semakin
menariknya.
“kau
akan terbiasa sayang, dan aku berjanji setelah ini. Kau hanya akan menjadi
milikku, dan secepatnya aku akan menikahimu.” Joon Myeon pun telah berani
mengecup bibir kissablenya, membuat Kyung Soo semakin emosi. Bibirnya hanya
untuk Jong In. Tidak boleh untuk orang lain.
“sejak
kapan ada tatoo di tanganmu? Dan kenapa ada nama banci di sana?! Baiklah besok
kau harus ikut aku untuk pergi dan menggantinya menjadi namaku.” Kata Joon
Myeon panjang lebar, lelaki ini benar-benar di bawah pengaruh minuman alkohol
tersebut. Tubuhnya yang panas langsung saja merangkul Kyung Soo dan menariknya
ke lift, menuju kamar yang telah disediakan oleh pemilik pub. Dan benar saja...
dengan uangnya yang melimpah. Joon Myeon memesan kamar termahal yang ada di
sana.
Tangan
Joon Myeon yang sedari tadi menyentuh pantatnya membuat Kyung Soo menghela
nafasnya kasar, guna menahan emosinya.
“sebentar lagi...
sabar...” itulah yang ada di dalam hati Kyung Soo
sekarang.
Dan
setelah lift tersebut terbuka, Joon Myeon pun membawa Kyung Soo menuju kamar
bernomor ‘160’ yang berada di ujung lorong tersebut. Ketika mereka berdua
memasuki kamar tersebut, mata Kyung Soo terpukau. Kamar yang bewarna putih dan
dihiasi warna keemasan membuat Kyung Soo terdiam, dan senyum pun terukir di
wajahnya.
“kau
menyukainya? Aku akan membelikan rumah untukmu, dan rumah itu akan lebih indah
dari ini.” Kyung Soo menatap mata Joon Myeon yang sayu karena pengaruh alkohol
tersebut membuat Kyung Soo ingat kepada Jong In, Jong In pasti mengikutinya.
Namun kamar ini telah di kunci oleh Joon Myeon. Ketika Joon Myeon mendekatinya
dan perlahan-lahan memegang bahunya dengan telapak tangannya yang panas
langsung saja Kyung Soo mendorongnya.
“sebaiknya
kau mandi, aku tidak suka bau alkohol yang ada di kaosmu.” Kata Kyung Soo dan
dengan cepat Joon Myeon memasuki kamar mandi yang ada di sana setelah mengelus
pelan rambut Kyung Soo. Kyung Soo pun dengan cepat membuka pintu kamar tersebut
dengan perlahan namun hanya membuka sedikit saja dan membuat celah kecil di
sana, dan bahkan dari dalam tidak akan terlihat. Setelah membuka pintu kamar
tersebut, Kyung Soo mengirim pesan ke pada Jong In.
To : My Tan
Setengah jam lagi, masuklah. Ia sedang mandi, dan kau
tahu dia tidak akan lama di sana.
Setelah mengirim pesan
tersebut, Kyung Soo menghapuskan kemudian meletakkannya di bawah ranjang
berukuran King Size tersebut. Kyung Soo pun duduk di sana dengan santainya.
Menunggu lelaki yang tengah mandi di dalam kamar mandi sana.
“apa aku lama?” tanya Joon Myeon
sambil keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah handuknya yang
bewarna putih, bejalan pelan kemudian duduk di samping Kyung Soo. Kyung Soo pun
menggeleng pelan kemudian tersenyum.
“cctv yang ada di lorong maupun di
kamar ini telah ku suruh matikan, kau tahu. Kau sekarang milikku, tidak boleh
ada yang melihatmu, secara keseluruhan.” Senyum pun mengembang dengan lebar di
wajah Kyung Soo, rencananya benar-benar berjalan mulus.
Dengan perlahan Joon Myeon memeluk
tubuh Kyung Soo, menghirup dalam aroma mint yang menyeruak dari badan Kyung Soo
membuat Joon Myeon agak marah. Bau mint ini, bau tubuh lelaki banci yang telah
menghalanginya untuk mendapatkan malaikat yang ada di dalam pelukannya ini.
“kenapa kau memakai sabun yang sama
dengan Jong In?”
“karena aku suka baunya, kenapa hyung?” tanya Kyung Soo balik membuat
Joon Myeon menghela nafasnya, Kyung Soo dengan perlahan melihat ke arah jam
dinding yang ada di sana. Menunjukkan pukul sepuluh malam. Senyum licik pun
terbentuk di bibir kissablenya. Yang dia perlukan di sini adalah, mengulur
waktu. Hanya tinggal lima menit lagi, dan permainan akan memanas seketika.
“hyung,
hyung memangnya memakai sabun berbau
apa?” tanya Kyung Soo sambil mengelus tengkuk Joon Myeon dan itu telah membuat
lelaki tersebut bergetar hebat kemudian menghela nafas.
“bau coklat yang kau sering makan di
kantor.” Jelas Joon Myeon lalu menarik Kyung Soo lebih mendekat ke arahnya,
tinggal dua menit lagi. Dengan perlahan Joon Myeon merebahkan tubuh mungil
tersebut, dan setelah itu mengecup kedua kelopak matanya bergantian.
Mulai.
“BUG!” suara keras terdengar dari
arah pintu masuk kamar tersebut, dan membuat Joon Myeon terkejut setengah mati.
Siapa yang telah menganggunya?! Ketika ia ingin turun dari rajang tersebut,
Joon Myeon langsung terjatuh ke lantai. Ia dapat merasakan sebuah suntikan
menancap di lehernya, menyebabkan ia limbung dan terjatuh ke lantai dengan
keras.
“sayang... racunnya benar-benar
hebat, baru saja ku gunakan dia langsung jatuh.” Seru Kyung Soo sambil berjalan
ke arah lelaki yang memasuki kamar tersebut, Joon Myeon tidak dapat melihat
lelaki tersebut. Ia hanya dapat melihat sepatu lelaki tersebut saja.
“sudah ku bilang... baiklah, dia
melakukan apa saja terhadapmu?” tanya lelaki itu sambil membawa Kyung Soo ke
dalam pelukannya, seketika badan Joon Myeon terkujur kaku. Lelaki itu... lelaki
banci bernama Kim Jong In.
“dia menyentuh pantatku, menyentuh
bahuku, memelukku, mengecup kelopak mataku, keningku, dan kesukaanmu, bibirku.”
Jelas Kyung Soo dengan nada suara sedih, Joon Myeon dapat mendengar suara Jong
In yang menghela nafasnya kasar.
“hai, Kim Joon Myeon. Bagaimana
kabarmu? Pasti sangat senang karena telah menyentuh milikku?” tanya Jong In
sambil mengangkat Joon Myeon dengan satu tangan tepat di leher Joon Myeon, Joon
Myeon tidak bisa bergerak. Obat yang mengalir di lehernya tadi bekerja sangat
cepat dan ampuh. Dari kejauhan ia dapat melihat Kyung Soo yang tengah membuka
tas hitam yang tadi Jong In bawa.
“membawa sebanyak ini, permainan
kita akan semakin panas.” Kata Kyung Soo dengan wajah cerah bahagia, ketika
Joon Myeon melihat ekspresi bahagia Kyung Soo juga Jong In. Tubuhnya merinding,
dan ia tahu... ia salah berurusan dengan seseorang.
~o0o~
“Jong... kau membawa hadiah yang kau
belikan tahun lalu bukan?” tanya Kyung Soo sambil menggeledah isi tas tersebut,
Jong In pun terkekeh kemudian melepaskan genggamannya dan membuat Joon Myeon
yang hampir kehabisan nafas tadi terjatuh keras di lantai.
“pisau ukir inikan?” tanya Jong In
sambil menunjukkan sebuah kotak yang berisi berpuluh-puluh pisau ukir berukiran
mini di dalamnya membuat mata Kyung Soo berbinar, dengan segera Kyung Soo
mengambilnya.
“tanpa suara tidak akan
menyenangkan... lebih baik kita tunggu sepuluh menit lagi, aku yakin suaranya
pasti akan ada.” Jelas Jong In lalu lebih memilih duduk di samping Kyung Soo
sambil mengeluarkan benda-benda yang ada di tasnya bersama Kyung Soo.
Seketika mata Joon Myeon membulat,
pasangan gila itu merencanakan apa?! Ia ingin bergerak tidak bisa, mengeluarkan
suarapun tidak bisa. Ia dapat melihat kaki mungil Kyung Soo bergerak ke
arahnya, seketika matanya bertukar pandangan dengan mata indah Kyung Soo.
“hyung,
kau mau apa? Pisau ukirku atau pisau ukir milik Jong In? Tinggal pilih saja.”
Kata Kyung Soo membuat Joon Myeon bergidik ngeri, malaikat berhati iblis! Kutuk
Joon Myeon di dalam hati.
“sayang... kau tahu, dia terlalu
percaya diri ketika membawamu ke sini. Menyewa kamar sampai dua hari, apa tidak
gila?” alis Kyung Soo mengerut, sekarang Joon Myeon tahu apa yang ia inginkan.
Mati dengan cepat, atau seseorang tiba-tiba datang menyelamatkannya.
“BODOH! LEPASKAN AKU!” bentak Joon
Myeon, benar apa kata Jong In tadi. Sepuluh menit telah mengembalikan suara
Joon Myeon.
“sayang... dia tidak sabar rupanya.”
Kata Kyung Soo lembut sambil mengambil sebuah pisau ukir yang berbentuk sangat
runcing dan kecil, kemudian ia mengarahkannya ke arah telapak tangan Joon
Myeon.
“tangan ini berdosa, telah menyentuh
milik seorang Kim Jong In.” Kata Kyung Soo jelas membuat Joon Myeon bergidik
takut, dengan perlahan Kyung Soo menekannya ke arah telapak tangan Joon Myeon
dan membuat mengeluarkan darah seiring pisau itu tertekan ke dalam telapak
tangannya.
“AKH!!! LEPASKAN AKU!!!” teriak Joon
Myeo beserta air mata yang kemudian mengalir di pelupuk matanya, mendengar
tangisan tersebut Kyung Soo tertawa keras. Dan dengan cepat Kyung Soo
mencabutnya dengan kasar membuat sakit yang luar biasa di tangan Joon Myeon,
Joon Myeon pun kembali berteriak kesakitan.
“mau lagi? Aku tahu itu.” Dan
setelah berkata seperti itu, Kyung Soo menusuk telapak tangan Joon Myeon kasar
dan dalam berulang kali. Mengakibatkan darah segar mengalir di sana seiring
suara kesakitan yang menggelegar keluar dari mulut Joon Myeon.
“AKH! Ku Mohon!!! Berhenti Akh!!!”
seketika Joon Myeon mendapatkan tendangan di area bibirnya dan menyebabkan
bibirnya mengeluarkan darah yang sangat banyak, dan tendangan itu berasal dari
kaki Jong In.
“dasar banci.” Kata Jong In datar,
dengan perlahan Jong In mengangkat tubuh Joon Myeon ke arah kamar mandi dan
meletakkannya ke dalam bath tube yang ada di sana.
“Jong... biarkan aku menghilangkan
dosanya dulu.” Kata Kyung Soo kemudian memeluk Jong In erat, dengan perlahan
Kyung Soo mencium bibir Jong In dengan liar. Membiarkan Joon Myeon merasakan
sakit yang luar biasa di hatinya, namun ketika Jong In menggigit bibir Kyung
Soo sampai berdarah Kyung Soo baru saja melepaskan ciuman tersebut dan
menampakkan bibir kissablenya berdarah.
“selesaikan sayang... kau tahu, aku
ingin menyiksanya karean ia telah berani menyentuhmu.” Kyung Soo pun tersenyum,
dengan perlahan lelaki bermata bulat itu berjalan ke arah Joon Myeon kemudian
menatap takjub ke arah bibir dan kedua telapak tangan Joon Myeon. Telah hancur,
dan tidak bisa berbentuk lagi karena ulahnya juga ulah Jong In.
“kelopak mataku dan keningku kan
yang telah kau nodai? Baiklah aku akan menghapuskan dosamu.” Kata Kyung Soo
lalu mengeluarkan sebuah pisau ukir yang berukuran lebih kecil dari yang tadi,
Joon Myeon langsung menangis sejadi-jadinya.
“ku...hon... ang...han” kata-kata
Joon Myeon yang tidak jelas itu membuat Kyung Soo mengernyitkan keningnya,
bagaimana ia bisa berbicara dengan benar?! Sedangkan bibirnya telah hancur
karena ulah Jong In.
“buka matamu! Kelopak matamu akan
menggantikan dosamu!” dengan perlahan Kyung Soo menarik kelopak mata sebelah
kanan milik Joon Myeon dan membuat Joon Myeo berteriak histeris. Sedangkan Jong
In, ia tertawa puas sambil meminum minuman bersoda yang ada di tangannya.
Joon Myeon dapat melihat pisau ukir
tersebut bergerak ke arah matanya, dengan perlahan pisau tersebut mengiris
kelopak matanya secara lamban membuat Joon Myeon tersiksa.
“SHAHITTTT!!!” teriak Joon Myeon
karena merasakan sakit yang luar biasa di area matanya, Kyung Soo pun semakin
memperlambat gerakannya untuk mengiris kelopak matanya. Air mata Joon Myeon
yang keluar sedari tadi memperburuk keadaanya, ia merasakan perih yang luar
biasa karena air matanya yang tanpa sengaja mengenai area irisan Kyung Soo.
“kau mengatai Jong In banci, tapi
baru segini saja kau telah menangis.” Kata Kyung Soo dengan senyum liciknya,
dan dengan sekali tarikan Kyung Soo menarik kelopak mata Joon Myeon yang hampir
terputus dan membuat area mata Joon Myeon terobek luar biasa hebatnya.
“SHAHIT!!!!” tawa Kyung Soo
menggelegar di sana membuat Jong In yang ada di sampingnya menggeleng dengan
senyum merekah. Dan Joon Myeon dapat kembali melihat pisau tersebut menggerak
ke arah matanya yang sebelah kiri.
“baiklah kita gunakan cara yang
lain.” Tutur Kyung Soo lalu mencari sebuah gunting mini di dalam kotak miliknya
tadi, dengan perlahan ia menarik kelopak mata Joon Myeon kasar kemudian
menggunting bagian paling bawah kelopak matanya.
“HYUOOONG HOOO!!! BELHNHIII!!!”
teriak Joon Myeon ketika Kyung Soo menguntingi kelopak matanya secara sedikit
demi sedikit. Dan akhirnya kedua mata Joon Myeon telah kehilangan kelopak
matanya, darah tersebut telah mengalir deras melalui sela mata Joon Myeon dan
terkadang tanpa sengaja mengenai tepat di atas retina Joon Myeon sendiri.
“sekarang kening! Karena tidak bisa
dipotong, jadi kita ukir saja!” seru Kyung Soo kegirangan, dengan cepat ia
mengambil sebuah pisau yang berbentuk seperti pencil di dalam kotak tersebut.
Sejenak ia terdiam, memikirkan pola apa yang bagus di kening Joon Myeon.
“nama samaran kita saja.” Usulan Jong In tadi membuat mata Kyung Soo
berbinar, setelah menarik kepala Joon Myeon agar menampakkan keningnya. Kyung
Soo akhirnya menggoreskan nama “Kai &
D.O” di kening Joon Myeon membuat Joon Myeon benar-benar tersiksa. Ia ingin
berteriak namun suaranya benar-benar hilang. Kai & D.O, bukankah itu nama
pembunuh bayaran yang terkenal tersebut? Seru Joon Myeon di dalam hatinya.
“terkejut? Tenang, semua orang tidak
akan pernah menyangka kalau Kai & D.O itu adalah kami.” Jelas Jong In
sambil menyuruh Kyung Soo menjauh dari sana.
“sekarang... giliranku” Joon Myeon
bergidik ngeri ketika melihat seringaian jahat Jong In tercetak jelas di sana.
Dengan perlahan, Jong In menyalakan shower yang berada di atas Joon Myeon, dan
membuat Joon Myeon basah. Seketika nyeri yang hebat datang kembali ketika air
dari shower tersebut menyapa luka tusukan di telapak tangan, mata, juga luka di
dahinya karena ulah Kyung Soo.
Darah segar mengalir sedari tadi
melalui air shower tersebut yang akhirnya menggenang di dalam bathup yang di
masuki Joon Myeon. Kesadaran Joon Myeon melemah karena darahnya yang terkuras
sedari tadi.
“pisau bedahku sayang.” Dengan cepat
Kyung Soo memberikan sebuah pisau berukuran sedang di tangan Jong In, setelah
membuka jubah handuk Joon Myeon. Dengan cepat Jong In menusukkan pisaunya tidak
terlalu dalam di daerah perut atas Joon Myeon, menariknya ke bawah
perlahan-lahan membuat Joon Myeon berteriak kesakitan kembali. Air shower
tersebut menyapa luka baru yang Jong In buat membuat Joon Myeon merasakan nyeri
dan pedih yang amat sangat.
Jong In pun terkekeh pelan, kemudian
ia mengulanginya terus menerus secara perlahan dan menampakkan tulang yang
terbungkus oleh daging dalam Joon Myeon. Dan dengan sekali tekanan, perut Joon
Myeon terbuka lebar dan menampakkan isi perut Joon Myeon yang sehat, terkecuali
paru-parunya yang agak bewarna hitam.
“perokok handal.” Guman Jong In
kemudian memasukkan tangannya ke sana, dan setelah menemukan sesuatu yang ia
cari. Dengan sekali tarikan, ginjal Joon Myeon tertarik keluar kemudian dengan
cepat Jong In memotongnya dan memasukkannya ke dalam toples yang telah ia
siapkan sedari tadi.
“lumayan untuk kenang kenangan.”
Tutur Jong In kemudian memasukkan alkohol berkadar 100% ke dalamnya, guna mengawetkan
ginjal milik Joon Myeon. Oh... lelaki tersebut telah melepaskan jasadnya ketika
Jong In membuka perutnya dengan beringas.
“bagaimana jasadnya?” tanya Kyung
Soo sambil memainkan tangan Joon Myeon yang ia tusuk tadi, dan dengan sengaja
ia memerasnya menyebabkan darah menetes dari sana.
“buang air yang ada di bathup itu...
kau pernah menonton film kan? Air keras adalah cara terindah yang pernah ada.”
Jelas Jong In lalu berlari ke luar dari kamar mandi tersebut kemudian kembali
dengan dua ember cat besar di tangannya. Setelah itu Kyung Soo pun membuang air
yang ada di dalam bathup tersebut.
“mana air kerasnya?” tanya Kyung Soo
dengan wajah polosnya, dengan perlahan Jong In mengecup bibir Kyung Soo
kemudian membuka penutup dua ember cat tersebut dengan perlahan.
“ini dia, lihat ini.” Kemudian Jong
In pun menyiramkan air raksa tersebut ke atas badan Joon Myeon, dan dalam
hitungan beberapa menit. Badan Joon Myeon meleleh bagaikan lilin, dan ketika
Kyung Soo melihat mata Joon Myeon yang keluar dari rongganya ia tertawa.
“keren.” Guman Kyung Soo tanpa
melepas tatapannya dari jasad Joon Myeon yang tengah meleleh tersebut. Dan
setelah setengah jam, akhirnya jasad tersebut telah meleleh sepenuhnya. Dan
bola mata yang ditertawakan Kyung Soo tadi telah meletus indah di hadapan
mereka berdua.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar