Selasa, 05 Mei 2015

Dragoner : Battle of Dragon - Chapter 02



Maaf nih sebelumnya mimin jarang post
mimin harus berantem dulu sama Mr.Malas buat nulis Fanfic dan buka
aduh kok malah curhat udahlah lupakan saja
kalau begitu semoga berkenan membaca cerita mimin 
Happy Reading
 
 

Penulis : Mr. Y     


Chapter 02 " Kemana Kami harus Melangkah?? "




   Rasa penasaran Chika muncul kembali, ia mengajak Prima untuk melihat nya lebih dekat. Dengan sedikit dorongan dari Chika akhirnya Prima memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Dia meletakkan tangannya dipermukaan pintu dan secara tidak sengaja pintu itu terbuka dengan sendirinya.Mereka berdua masuk dan melihat dalamnya tidak ada bedanya dengan lift biasa. “Lihatlah Prim ini hanya lift biasa tidak ada yang aneh “ terang Chika. “ iya kau mungkin benar “ tambah Prima. Namun sebelum mereka keluar pintu lift tertutup dengan sendirinya dan hanya ada 2 pilihan tombol Next atau Back. Tanpa pikir panjang Chika menekan tombol Next.


    Lift mulai bergerak setelah Chika menekan tombol Next, namun tidak berapa lama kemudian terjadi sebuah goncangan kecil pada lift tersebut “apa yang terjadi?? “ Tanya Chika mulai panik. Guncangan yang mereka rasakan semakin besar hingga membuat mereka berdua terjatuh kelantai, lama mereka mengalami hal itu, tapi semua guncangan hilang tiba-tiba setelah pintu lift terbuka.


    “ aduh,,duh..  kau tidak apa-apa Prima…“ Chika mencoba untuk berdiri setelah terjatuh akibat guncangan yang terjadi pada lift yang mereka tumpangi, “ hey Prima kau dengaraku “ masih membetulkan pakaian dan sebagainya.

    “ iya aku dengarkan mu tapi coba kau lihat ini “ Primamelongo di depan lift yang mereka tumpangi, dia tidak bergerak untuk waktu yang cukup lama. Tidak lama Chika juga ikutan melongo melihat daerah disekitarmereka semuanya berubah drastis.
 
    Udara yang sebelumnya sebelumnya berubah menjadi hangat,pemandangan dipegunungan tiba-tiba hilang dan sekarang banyak gunung-gunung tinggi, pohon-pohon liar banyak tumbuh dimana-mana.

    “ kita sekarang berada dimana? “ Tanya Chika yang masih kagum dengan pemandangan yang mereka lihat
    
    “ entahlah aku juga tidak mengetahuinya “ jawaban jujur yang singkat dari Prima “ bagaimana kalau kita berkeliling dulu “

    “ itu ide bagus “


    Baru saja mereka melangkah menuju pepohonan, terjadi ledakan dibelakang mereka, sontak saja itu membuat mereka berbalik dan mencari tau sumber ledakan tadi, ternyata yang meledak adalah lift yang membawa mereka kemari. Jalan pulang satu-satunya sudah hilang dan sekarang mereka berdua terjebak didunia yang tak pernah terpikir oleh mereka.


    “ Prima,, bagaimana ini?? “ matanya berkaca-kaca, dia mulai ketakutan


    “ Sudahlah lupakan saja, aku sudah sering mengalami hal yang buruk… kita cari jalan pulang yang lain saja “ Prima mencoba menghibur Chika yang sedih

     “ apa kau yakin masih ada jalan pulang yang lain? “

    “ Dimana ada jalan masuk, pasti ada jalan keluarnya, tapi sebelum itu kita harus menyalakan api unggun dan mencari makan “ kata Prima “biar cepat kita berpancar saja “

    “ tidak mau, aku takut malam sendirian apalagi ditempat yang tidak kuketahui seperti saat ini “ jelas Chika

    “ huh,, apa boleh buat… kita cari apa ungun saja “


    Mereka pun beranjak dari tempatnya dan pergi mencari ranting-ranting pohon yang tergeletak ditanah dan dikumpulkan untuk dijadikanapi unggun. Cukup lama mereka mencari dan banyak kayu atau ranting yang mereka dapat, sekarang waktunya menyalakan api unggun.


    “ Prima apa kau bisa menyalakannya? Kita tidak punya sesuatu yang dapat membakar kayu-kayu ini “

    “ kita memang tidak punya, tapi kita masih bisa menggunakan cara lama… seperti menggunakan batu atau ranting ini “

    “ yakin kamu bisa melakukannya? “ Chika pun meragukan ide temannya tersebut

    “ kita coba saja dulu “ jawab Prima dengan yakin


    Waktu demi waktu telah berlalu, malam pun semakin larut hewan-hewan buas haus darah semakin banyak mengintai mereka berdua, tanpa komando lagi binatang haus darah sudah menyerang mereka dengan membabi buta,tanpa pandang bulu, Chika mulai risih dan ketakutan, sedangkan Prima masih berusaha menyalakan api untuk mengusir binatang itu. Namun apa daya kemampuan Prima hanya sampai disini saja, dia telah kalah dan tidak bisa membuat api.


    “ nih nyamuk rese banget, Prim apa kau tidak punya cara lain lagi? Aku udah gak tahan nih “ kata Chika dengan sedikit kesal
   
    “ maaf, tapi hanya ini yang ku bisa “ Prima sudah lepas tangan dan menyerah namun dia sudah berusaha semampunya, dia jadi sedih melihat Chika yang sedari tadi diserang binatang haus darah.


    Prima mengambil salah satu bakar dan memegangnya dengan erat, dia memejamkan matanya dan berbikir sekuat tenaga bagaimana cara agar kayu ini terbakar. BURNING!!! Suara aneh kembali muncul dari gelang yang digunakan Prima, dan tiba-tiba saja kayu itu terbakar.


    “ kok panas ia? Apa yang terjadi “ dia membuka matanya “ohh,,ternyata ada api, pantesan panas “

    “ Prima, kamu berhasil… tapi bagaimana kau melakukannya? “ seru Chika kegirangan dan mereka berdua berhasil membuat binatang haus darah menjauh dan pergi

    “ entahlah aku juga tidak tau… yang terpenting sekarang kita aman dari nyamuk “ jelas Prima secara singkat jelas dan padat. “ Ini ada rotikau mau? “ dia memberikan roti yang baru saja dia ambil dari saku celana.

    “ tidak, aku sedang diet “

    “ tidak apa, lagi pula kita hanya punya ini, besok kita cari makanan, yang lain “

    “ terima kasih Prim “ Chika tersenyum, malu dan menghabiskan roti yang baru saja diberi oleh Prima dan langung tidur. Sedangkan Prima masih berjaga-jaga hingga beberapa jam, ia melihat Chika mengigil kedinginan. Laludia membuka jaket dan menjadikannya selimut untuk Chika.
   
    Disisi lain “ Asap?? Siapa yang berani membuatnya disaat seperti ini “ kata seorang pemuda misterius, ia mengunakan jubah wajahnya tertutup hoodie. “ mungkin kah itu serangan musuh atau salah satu dari kami? Sepertinya aku harus mencari tau sendiri “ lanjutan dari kalimat sebelumnya


                                                                    *****


    Sang mentari telah terbit dari timur dan siap memberikancahaya kepada yang memerlukannya, kicauan burung-burung kecil yang hinggapdipepohonan menjadikan pagi itu lebih meriah dan suara merdu dari burung-burungmembuat Prima dan Chika terbangun dari tidurnya.


     “ Selamat Pagi Prim “sapa Chika

    “ pagi “

    “ mau kemana kamu Prim? “

    “ nyari makanan dulu, mau ikut? “


    Tidak ada jawaban dari Chika namun ia langsung mengikuti dari belakang setelah selesai merapikan pakaiannya dan mengembalikan jaket yangdi kasih Prima. Mereka mencari buah-buah dipepohonan dan mereka mendapat lumayan banyak buah apel. Mereka memakan beberapa buah ditempat dan menyimpan sisanya didalam tas jinjing milik Chika yang kebetulan ikut terbawa ketempat mereka sekarang. Ukurannya memang tidak besar tapi cukup untuk membawa beberapa buah apel.


    Buah-buah apel yang mereka bawa satu persatu berkurang,mereka berjalan terus berada ditepian sungai, sekarang matahai sudah berada dipuncak tertinggi dan itu membuat Prima dan Chika kehausan untunglah mereka berada didekat sungai…


    “ Prim kita istirahat disini dulu ia, aku cape “ mencoba mengatur nafasnya karena kelelahan akibat berjalan cukup jauh

    “ iya aku juga cape “ Prima berbaring dipinggiran sungai, dia sudah tidak peduli kalau pakaiannya kotor.

    “ Prim, coba deh airnya segar “ ajak Chika


    Prima mendekati sungai, dia mencuci tangannya dan menggambil air untuk diminum, Prima tidak berkomentar apa-apa tentang air ini tapi dia terus minum untuk menghilangkan rasa haus dan gerahnya. Ide jahil Chika muncul dia mencoba mendekati Prima lalu menyiramnya dengan air sungai. “ fuu… awas kamu ya…” Prima terjun kesungai dan membalas perbuatan Chika. Sungai yang mereka masuki sangat dangkal namun bersih. Mereka bermain air layaknya anak kecil.


    Mata misterius masih mengawasi mereka didalam bayang-bayang pepohonan. Cukup lama mereka bermain air, mereka keluar daeri sungai bersama dan mengeringkan diri, setelah itu mereka berbaring bersama.


    “ tadi itu sungguh menyenangkan, sudah lama aku tidak bermain sebebas ini, semua terhalang oleh tugas kuliah “

    “ yeah, kau benar tadi sungguh menyenangkan “ setelah sekian lama, akhirnya Prima tersenyum. Chika yang baru pertama kali melihat Prima tersenyum juga merasa senang.


    Lama mereka diam dan salah satu dari mereka, lalu disusul oleh yang lain. Mereka kelelahan setelah perjalanan yang cukup jauh dan tidak tau arah yang harus dituju. Ditambah lagi habis bermain air, setelah melepas lelah sejenak, dan wajar itu membuat mereka tertidur begitu mudah, tanpa memperhatikan tempat dan situasi.


    Cukup lama mereka tertidur saat Prima bangun matahari sudah terbenam, tanpa pikir panjang dia langsung mencari kayu atau ranting untuk dibakar dan meninggalkan Chika yang masih tertidur pulas didekat sungai, dia juga tidak lupa memberikan jaketnya sebagai selimut untuk Chika.


    Malam semakin gelap suara-suara bising sudah berhenti berbunyi, saat yang tepat untuk binatang haus darah menampakkan diri dan berburu, melihat santapan lezat mereka langsung menyerbu mangsanya. Chika pun terbangun akibat diserang makluk haus darah, dia melihat pemandangan sekitar sudah gelap dan Prima juga tidak ada didekatnya, ketakutan merasuk kedalam tubuhnya, tubuhnya menggigil tanpa henti, dan dia tidak tau apa yang harus dilakukan, yang ia lakukan hanyalah menunggu.


    Malam semakin hening, Chika tidak peduli dengan binatang haus darah karena sekarang dia menggenakan jaket milik Prima, sehingga tidak perlu khawatir dengan serangan mereka. Sesuatu mendekat kearah Chika dan menghasilkan bunyi SRETT..SRRETT!!. rumput-rumput liar disekitarnya memang cukup lebat sehingga itu menjadi alarm yang bagus apabila ada yang mendekat kearahnya.


    Bunyi itu semakin keras dan semakin nyaring, sesuatu yang bergerak kearahnya semakin dekat, rasa takut Chika semakin bertambah, terus bertambah. Keringat dingin muncul dari kepalanya, dan tiba-tiba saja seseorang menampakkan dirinya sambil mengangkat tumpukan kayu bakar.


    Sebuah pukulan mendarat dipipi, tumpukan kayu bakar terjatuh berserakan “ Prima Bodoh!!! “ ungkap Chika, Prima yang baru saja sampai menjadi bingung sendiri dan berusaha memahami situasi sekarang ini,. “ Jangan ninggalin aku seenaknya begitu “ kepala Chika tertunduk dia begitu malu memperlihatkan wajahnya.


    Prima memegang dagu Chika dan mengangkatnya dengan lembut,sehinga sekarang posisi mereka saling bertatapan, Prima tersenyum lalu berkata“ Tenanglah maaf aku meninggakan mu, tapi aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendirian dan akan menjagamu “ dia mencoba menghibur, Chika kembali tersenyum dan mengangguk pelan, semanggatnya sudah kembali.


    Chika membalikkan badan lalu berkata “ Aku dengan beberapa syarat! “

    “ baiklah, apa syaratnya? “

    “ Syarat pertama nyalakan api unggun. Sisanya belum terpikir, mungkin nanti saja sisanya “

    “ baiklah, jika itu keinginanmu ” dia mengumpulkan kembali kayu bakar yang berserakan, lalu menumpuknya menjadi satu namun dia sisakan satu untuk diabakar. Prima berpikir seperti saat malam sebelumnya, suara anehpun muncul dari gelangnya  BURNING!!!  Kayu yang dia pegang menyaladengan sendirinya. 
Chika memperhatikan dari samping dan bertanya “ kamu bisa sulap “

    “ tidak, sulap itu apa? “ balas nanya

    “ lalu, bagaimana cara mu membakar kayu itu “ makin penasaran

    “ entahlah, aku Cuma berpikir agar kayu ini terbakar, lalu api itu muncul dengan sendirinya ”

    “ itu tidak masuk akal, tapi setidaknya kita sudah punya api untuk menghangatkan diri “


    Mereka beristirahat kembali ditemani dengan api unggun yang hangat, dan mereka juga terhindar dari binatang haus darah. Tidak jauh dari tempat mereka berada ada seseorang sedang mengawasi, dalam bayangan dikegelapan malam, bulan semakin terang malam semakin larut, api unggun terus menerangi dan menghangatkan mereka, tapi itu juga mengundang binatang lain untuk mendekat.


    ROAARR!!! ROARR!!!, raungan mengerikan tiba-tiba terdengar. Prima langsung bangun dari tidurnya, raungan itu terdengar lagi beberapa kali, setiap kali terdengar suaranya makin nyaring. Prima mencari-cari sumber suara itu, suara mengerikan yang pernah dia dengar. Meskipun sudah lama sekali tapi dia tidak pernah lupa dengan raungan mengerikan itu.


    Akibat raungan yang keras Chika juga ikut terbangun, matanya terbuka perlahan dia melihat sebuah pemandangan mengerikan, ada 3 binatang terbang yang mengerikan, Tidak seperti binatang sebelumnya, kali ini besar,terlihat begitu ganas, dan yang paling mengerikan mereka dapat terbang.


    “ Kyaaaaa ” teriakan itu membuat Prima khawatir

    “ apa yang terjadi? “ Tanya Prima panik

    “ diatas aa..aa..da naga “ matanya tidak henti menatap kearah atas, disertai dengan tangan kanannya menunjuk salah satu binatang terbang yang mencoba menyerang mereka
Prima meilhat kearah atas betapa kagetnya dia, “b…bagaimana?? Tidak mungkin!! “ tebakan Prima benar, dia menarik tangan Chika dan membawanya bersembunyi kedalam pepohonan…

    “ sudah dimulai? “ pemuda misterius memantau dari jauh


    Pendaratan para Naga berjalan mulus dan lancar, mereka terpancing datang karena api unggun yang dibuat Prima, dibalik pepohonan mereka mengawasi naga-naga itu, Prima dan Chika terpojok mereka tak dapat bergerak karena rumput liar yang tinggi. Jika merekabergerak maka habislah sudah. Para Naga mengitari api unggun lalu duduk bersama didekat api.


    “ apa mereka sudah pergi? “ bisik Chika

    “ aku juga tidak tau “


    SREEETT!!SREETT!! suara yang muncul dari dalam pepohonan, suaranya semakin brisik sehingga membuat para naga bangun dan terlihat dari wajahnya mereka sangat kelaparan. Seseorang muncul dari dalam pepohonan membawa sebuah kartu ditangganya dan wajah yang tertutup hoodie, Prima dan Chika memperhatikan dari balik pohon. Suasana menjadi hening sesaat mereka semua terdiam.


    Angin berhembus dengan kencang, api unggun yang dibuat Prima menyala dengan terangnya, hoodie  yang dipakai pria itu terbuka akibat tiupan angin ROARR!! Raungan salah satu naga memecah keheningan, 2 lainnya dengan agresif menyerang pria mengunakan hoodie,lalu disusul naga yang lain, dengan santai pria itu menghindari semua serangan yang datang kepadanya.


    Pria itu berbalik dan melakukan gerakan tertentu lalu dia berkata “ Berubah!! Kartu yang dipegangnya tadi discan ke gelang yang adaditangan kanan. Charge On!! Suaraaneh muncul lagi, tapi kali ini dari gelang yang dipakai Pria berhoodie, cahayaterang menyelimuti tubuhnya kemudian cahaya itu menghilang dan pria tadi sudahberubah menggunakan baju zirah perak Energy  Up  “ kalian bersiaplah!! ” katanya pria itu


    Kata-kata pria itu disambut dengan raungan dari ketiga Naga yang ada dihadapannya.  Ketiga Naga itu kembali menyerang secara bergantian, namun tidak ada yang bisa mengenai pria itu,dengan lincahnya dia melewati satu persatu Naga yang dia lawan. Para Naga semakin marah serangan mereka semakin beringas dan semakin ganas. Pria itu tidak mampu menghidar lagi, mulai sekarang dia menjaga jarak dengan ketiga Naga itu.


    Pria itu mengambil benda yang ada dipinggangnya, lalu dipasang ketangan sebelah kanan.  Eq Stand by!!  Suara aneh kembali muncul dari gelang sebelah kiri, Naga pertama menyarang namun ditangkisnya, Naga kedua juga berhasil dia hindari, dan Naga ketiga mendapat bonus pukulan dari pria itu.


    “ Sekarang giliranku!! “ teriak pria berzirah, dimenekan tombol yang ada ditanggan kanannya, dia berlari dan mengambil sebuah ranting,tiba-tiba ranting itu bercahaya dan berubah wujud menjadi pedang. “Hora…Hora…Horaa…..”  berlari menuju ketiga Naga tersebut dan menebasnya mengunakan pedang,  ketiganya terkena tebasan dibagian sayap dan mereka terjatuh ke tanah, kesempatan itu tidak dia sia-siakan. Pria berzirah menamcapkan pedangnya, dia lalu menekan tombol berbentuk tingkaran.


    Sebuah lingkaran muncul dibelakang pria itu, lingkarang itu sungguh terang, beberapa saat kemudian muncul seekor Naga merah dari dalam lingkaran, lalu dia membuat kuda-kuda siap menyerang,  tubuh naga itu mulai terbakar. Power Max!!! suara aneh muncul lagi dari gelang milik pria berzirah. “ Drill Horn Dragon!! “ teriaknya. Pria itu mendorong tangannya kedepan bersama’an dengan jalannya Naga merah, Naga itu berputar dan berubah menjadi tanduk api yang berputar-putar tanpa henti.


    Ketiga Naga yang terjatuh tidak dapat bangkit lagi, mereka terlalu lelah untuk terbang, bahkan berdiri saja tidak bisa, tanduk api pun mengenai mereka bertiga. Ledakan yang cukup besar menjadi penutup acara pertarungan kali ini.


    “ waw, apa kau melihat itu?? Keren sekali Prim..” Chika begitu riang mengungkap hal ini “ Apa yang terjadi disini, bagaimana bisa ini terjadi,, Kenapa…kenapaa?? “ sejumlah pertanyaan berkumpul menjadi satu dalampikiran Prima perasaannya jadi bercampur aduk, “ Prima kok bengong , apa kau mendengarkan ku? “

    “ oh iya aku dengar “ jawaban reflek akibat kaget

    “ ayo kita temui orang itu “ menarik tangan Prima dan membawanya menemui orang berzirah itu


    Baru setengah jalan mereka berjalan, sudah harus dikaget kandengan satu Naga yang menyerang pria itu, dia terpental cukup jauh akibat serangan mendadak dari Naga yang datang entah dari mana, Pria itu tidak dapatbangkit akibat tubuhnya ditindih oleh kaki dari si Naga.


    Prima melihat pedang yang dipakai pria itu masih menancap ditanah, dia bergegas mencabut pedang itu, dengan sedikit usaha dia berhasil mencabutnya. HAAAA!!! Teriakan Prima yang sedang berlari membawa pedang dari pria berzirah, “ Rasakan ini!! “ Prima menacapkan pedang itu ke leher sang Naga, berkat pertolongan dari Prima, pria itu dapat  berdiri dan bangkit kembali.


    Naga itu mengerang kesakitan, raungannya begitu keras, Prima masih dalam posisi memegang pedang, dia terus mendesak pedang itu agak masuk lebih dalam..lagi..lagi, dan lebih dalam lagi. Naga itu tidak kehabisan akal,dia pun terbang keatas, Prima yang kaget melepaskan pedang yang dia pegang. Power Max!!  “ Drill Horn Dragon!! ”, serangan tiba-tiba dari Pria itu tapat mengenai sasaran dan acara malam itu diakhiri dengan kembang api dari Naga yang menyerang meraka.

  
    Pria itu melihat Prima dari belakang, dia mendekatinya dan ingin berterima kasih. Namun ketika dia melihat ekspresi Prima dia sedikit kaget, Chika menghampiri dan menanyakan bagaimana keadaan mereka. Pria membawa mereka ke sebuah gua, disini mereka aman dari ancaman para Naga…







BERSAMBUNG!!!!


Note :
suara aneh keluar dari gelang (Changer) mengunakan bahasa bangsa Naga, saya masih bingung mikir bahasanya gimana, jadi untuk sementara pake bahasa inggris dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar